Semalam saya ada kongsikan tentang personality test. Bila kita kenal diri kita, dan kita berusaha untuk menambah baik akhlak dan ibadah kita, Allah akan berikan tarbiah kepada kita melalui ujian-ujianNya. Saya kira ia adalah satu ‘experiential lerarning’ kepada saya, sekiranya apa yang ditarbiahkan/diujikan kita ambil menjadi ibrah kepada diri. Hari ini saya nak bincangkan bagaimana pula ujian yang diberikan oleh Allah untuk membentuk/shaping hambaNya agar menggunakan kekuatan yang ada untuk ummah, dan kelemahan yang ada untuk diatasi dan diperbaiki.

Melalui personality test guna kaedah yang dikongsi oleh Florence Liteur dalam bukunya Personality plus, saya adalah seorang powerful choleric and popular sanguine, an eagle and peacock I am. Similarly kalau saya uji diri saya guna Belbin Management Test, di dalam kerja kumpulan, saya adalah Shaper. Berulang-ulang kali saya buat tetap tidak mengubah kategorinya. Sebelum itu mungkin saya dapat kongsi sedikit gist tentang karakter saya:

Choleric (Wikipedia)
The choleric temperament is fundamentally ambitious and leader-like. They have a lot of aggression, energy, and/or passion, and try to install it in others. They are task oriented people and are focused on getting a job done efficiently; their motto is usually “do it now.” They can dominate people of other temperaments with their strong wills, especially phlegmatic types, and can become dictatorial or tyrannical. Many great charismatic military and political figures were cholerics. They like to be in charge of everything and are good at planning, as they often can immediately see a practical solution to a problem. However, they can quickly fall into deep depression or moodiness when failures or setbacks befall them.

Sanguine (Wikipedia)
The sanguine temperament is fundamentally impulsive and pleasure-seeking; sanguine people are sociable and charismatic. They tend to enjoy social gatherings, making new friends and tend to be boisterous. They are usually quite creative and often daydream. However, some alone time is crucial for those of this temperament. Sanguine can also mean sensitive, compassionate and romantic. Sanguine personalities generally struggle with following tasks all the way through, are chronically late, and tend to be forgetful and sometimes a little sarcastic. Often, when they pursue a new hobby, they lose interest as soon as it ceases to be engaging or fun. They are very much people persons. They are talkative and not shy. Sanguines generally have an almost shameless nature, certain that what they are doing is right. They have no lack of confidence. Sanguine people are warm-hearted, pleasant, lively and optimistic.

Shaper (Belbin Management Test, Wikipedia):

The Shaper is a task-focused individual who pursues objectives with vigour and who is driven by tremendous energy and the need to achieve – for the Shaper, winning is the name of the game. The Shaper provides the necessary drive to ensure that the team kept moving and did not lose focus or momentum.[2]
Shapers are people who challenge the team to improve. They are dynamic and usually extroverted people who enjoy stimulating others, questioning norms, and finding the best approaches for solving problems. The Shaper is the one who shakes things up to make sure that all possibilities are considered and that the team does not become complacent.[3] Shapers could risk becoming aggressive and bad-humoured in their attempts to get things done.[2] Shapers often see obstacles as exciting challenges and they tend to have the courage to push on when others feel like quitting.

Jadi apa yang Allah tarbiah saya? 
Allah tarbiah saya dengan SABAR. Ya, saya akui saya ada kelemahan dengan sikap SABAR. Adakalanya saya terburu-buru membuat keputusan, adakalanya saya cepat rasa ‘hostile’ dan ‘volatile’ dalam menerima dan membuat keputusan. 

Sekiranya saya singkap kembali perjalanan hidup saya sepanjang 30 tahun yang lalu, banyak sungguh ujian yang Allah bagi pada diri saya untuk membentuk/shaping diri saya sebelum saya ‘shape’ orang lain. Akhlak saya semasa di sekolah menengah bukanlah baik pun, rakan-rakan saya anti dengan saya kerana saya kadang-kadang jenis yang tidak kisah dengan persahabatan. Saya keras dalam membuat keputusan, apatah lagi sebagai ketua pengawas, saya memang anti dengan kawan-kawan yang melanggar peraturan sekolah. Adakalanya saya ni jenis yang suka menunjuk-nunjuk. Setiap tingkatan yang saya naik, Allah uji satu persatu, setiap tahun hampir-hampir saya mahu pindah/tukar sekolah tetapi Allah tak izinkan. Pada saya, saya tidaklah ‘enjoy’ zaman remaja saya. Karakter saya keras seperti batu. 

Dengan sifat ‘kiasu’ saya, Allah takdirkan saya ke Kolej MARA Banting untuk sambung IB saya. IB yang sangat mencabar kerana tempohnya dipendekkan menjadi setahun setengah sahaja. Namun di situ, Allah pertemukan saya dengan insan-insan yang hebat-hebat dan masih menjadi sahabat karib saya sehingga sekarang: Firdaus Mat SaadMohd Zamir PakhuruddinAdzhar Zawawi (ex-roommate A102) dan Mohd Fahmi Hashim. Mereka memperkenalkan saya dengan erti setiakawan dan persahabatan. Allah datangkan mereka untuk ‘tone down’ sifat kiasu, pentingkan diri dan karakter keras saya. 2 minggu pertama saya sudah memperoleh tazkirah pertama daripada Daus, dan Alhamdulillah, saya sangat menghargainya hingga sekarang. 2 minggu bertazkirah menjadi 6 bulan anti-friendship dengan beliau. Saya sukar terima teguran beliau pada awalnya tetapi takdirnya kami menjadi sahabat akrab. Kepada beliau saya mengadu masalah saya. Zamir, Adzhar dan Fahmi adalah rakan-rakan yang bersedia bersama-sama saya ketika saya ‘ups’ and ‘down’. Syukur kepada Allah atas pertemuan ini. 

Allah tarbiah saya dengan SABAR apabila saya keseorangan terkulat-kulat di Manchester semasa first year saya. Perasaan gundah, keseorangan, menghantui diri saya. Total depression tetapi Alhamdulilah saya dapat atasi keadaan berpindah ke Sheffield semasa 2nd year saya. Di sana, walaupun saya berdepan dengan macam-macam masalah dan adakalanya menguji persahabatan kami (kerana Adzhar, Firdaus, Zamir dan Fahmi ke Sheffield), Allah tarbiah saya dengan SABAR. Pada ketika itu juga, Allah ketemukan saya dengan pasangan hidup saya,Putri Nurizatulshira. Allah uji ikatan kami dengan SABAR. Hampir 5 tahun berkenalan tetapi ‘memendamkan’ perasaan cinta atas batasan syariat sangat menguji ikatan goyah ini. You just knew she’s the right one for you but the time was not right. Setelah itu, barulah akhirnya kami menjadi pasangan yang halal. Itupun setelah saya rasa tidak mampu lagi menunggu ketika saya melanjutkan pengajian MSc saya di Newcastle. 

Saya tidak terus jatuh cinta dengan isteri saya. Perasaan cinta itu makin mendalam dan makin menebal dengan datangnya mawaddah. Alhamdulillah, Allah berikan Putri Nurizatulshira sebagai anugerah yang terindah kepada saya untuk mentarbiah diri saya. Saya tidak rasa buat masa ini ada pengganti yang sesuai yang seSABAR isteri saya menghadapi karenah ‘hostile’ dan ‘volatile’ saya. Beliaulah penawar di kala duka saya, apa jua konflik yang kami hadapi sepanjang hampir 8 tahun pernikahan ini kami hadapinya bersama, dan selepas ia selesai pasti akan timbul perasaan cinta yang mendalam, insya Allah. Beliau berkorban kerjaya beliau, hampir setiap 2 tahun untuk bersama-sama dengan saya. Mana ada orang yang makin pindah kerja makin rendah gajinya?

Allah anugerahkan saya anak-anak yang sihat dan bijak, Alhamdulillah sebagai madu dan amanah buat saya. Mereka penawar di kala duka. Allah beri saya peluang untuk menyambung pengajian PhD saya, kali ini di London. Sekali lagi Allah beri ujian SABAR, kali ini dengan apa yang saya tak mampu kawal. Kesihatan, kebakaran, sampel rosak dan sebagainya. Sehingga sekarang, saya masih belum mampu memulakan kerja di makmal saya, ya sudah 5 bulan! 

Allah bagi saya rasa ‘depress’ sekejap, untuk menyedari hakikat bahawa tidak semua perkara saya boleh kawal, semuanya adalah ketentuan Allah semata-mata.

Tetapi saya tidak depress lama-lama, maka saya mengutip semangat, menggunakan kekuatan karakter saya untuk tidak terus putus asa, saya WAJIB tamatkan perjuangan PhD ini. Saya WAJIB menyumbang untuk ummah dengan isteri saya, sebagai satu sinergi kami bersama. 

Ia perjalanan yang panjang. Ia perjalanan yang menguji keSABARan. Allah bentuk saya sehingga siapa saya pada hari ini. Dan saya berdoa agar mati saya nanti adalah mati husnul khatimah. Perjalanan menuju nafsu muthmainnah ini sungguh mencabar terutamanya di dunia marcapada. Saya doakan juga teman-teman fb saya agar terus berusaha meningkatkan potensi diri untuk ummah dan memperbaiki diri untuk mengadap Allah SWT kelak. 

Salam perjuangan dari hatiku ke hatimu. Wassalam.